Oleh : Fariq Gasim Anuz
Ketika saya sedang duduk di ruang kerja di kantor Islamic Center di Jeddah, Saudi Arabia di penghujung bulan Dzulhijjah 1429 H atau di akhir bulan Desember 2008 M, masuklah seorang anak remaja dengan mengenakan gamis, kopiah dan sorban merah sambil mengucapkan salam.
Setelah saya berkenalan dengannya ternyata dia adalah keponakan salah seorang pengurus dan relawan di kantor Islamic Center yaitu ustadz Muhammad Ash Shubhi yang datang ke kantor tiap hari Jumat untuk memberikan ceramah kepada para mu’allaf yang berasal dari Philpina. Nama anak tersebut Muadz Ash Shubhi berumur 17 tahun dan masih duduk di kelas 2 SMA.
Tampak dari anak tersebut wibawa dan penuh kedewasaan, saya tinggalkan pekerjaan saya dan duduk menemani Muadz untuk mengenal dia lebih jauh lagi. Ternyata dia telah selesai menghapal Al Quran 30 Juz, dan sekarang dia rajin mengulang hapalannya agar tidak lupa dan hilang. Ia terkadang mengimami shalat berjamaah di Masjid dekat rumahnya jika imam terlambat atau berhalanagan hadir. Dia juga aktif berperan sebagai mu’adzin di masjid tersebut sejak umur 14 tahun. Hanya saja terakhir ini pengurus masjid menggantikannya dengan mu’adzin dari orang dewasa dengan alasan dia masih anak-anak dan menjanjikan kepadanya jika telah selesai sekolah maka dia bisa menjadi mu’adzin lagi.
Saya memberikan kesempatan kepadanya untuk berbicara lebih banyak, diantara hal yang menarik dari pembicaraan Muadz yaitu ketika dia bercerita tentang masa kecil Syaikh Doktor Abdul Aziz Fauzan Al-Fauzan.
“Ketika itu, orang tuanya memiliki banyak kambing dan anak-anaknya mendapatkan tugas untuk menggembalakan kambing secara bergantian sepulang mereka dari sekolah. Hari ini bagian Muhammad kakaknya, keesokan harinya giliran Abdul Aziz dan besoknya lagi giliran adiknya. Saat giliran adiknya bertugas untuk menggembalakan kambing maka adiknya datang kepada ibunya sambil menangis dan berkeberatan untuk menggembalakan kambing. Karena merasa kasihan kepada anaknya yang paling kecil maka si ibu menyuruh kakaknya yang paling besar yaitu Muhammad untuk menggembalakan kambing. Kakaknya menolak dengan alasan bahwa dia sudah menjalankan kewajibannya 2 hari yang lalu. Maka si ibu menyuruh Abdul Aziz untuk menggembalakan kambing, Abdul Aziz menuruti permintaan ibunya dan tidak membantahnya. Keesokan harinya giliran kakaknya yang tertua bertugas menggembalakan kambing, maka kakaknya datang kepada ibunya sambil menangis pula berkeberatan untuk mengembalakan kambing. Si ibu menyuruh Abdul Aziz lagi untuk menggembalakan kambing. Abdul Aziz menjalankan perintah ibunya tanpa membantah sedikitpun. Akhirnya setiap hari Abdul Aziz menggembalakan kambing milik orang tuanya.”
Syaikh Abdul Aziz merasakan banyak sekali kemudahan yang Allah berikan kepadanya dan beliau berpendapat di antara sebabnya adalah bakti seorang anak dan doa kedua orang tuanya.
Kisah yang diceritakan Muadz sangat berkesan dihati saya, cerita tersebut mengingatkan saya kepada ucapan Profesor Doktor Abdul Karim Bakkar dan Profesor Doktor Shalih Al Ayid dalam bukunya.
Profesor Doktor Abdul Karim Bakkar berkata,
"Sesungguhnya doa kedua orangtua untuk anak-anaknya ada dua macam, ada yang disebabkan rasa iba dan kasihan, hal ini dilakukan oleh kedua orang tua meskipun anak-anaknya kurang berbakti kepada mereka. Ada lagi doa dari orang tua diucapkan dari lubuk hati yang paling dalam, doa tersebut merupakan ungkapan rasa senang, puas, ridha dan kagum kepada perbuatan dan bakti anak mereka, doa yang seperti inilah yang lebih pantas untuk dikabulkan oleh Allah.”
(50 Lilin Untuk Menerangi Jalan Hidup Kalian)
Profesor Doktor Shalih Al Ayid berkata,
"Sesungguhnya doa ibu tidak mungkin meleset, ibuku -semoga Allah merahmatinya- selalu ridha terhadap anak-anaknya dan sangat mencintai mereka, oleh karena itu ia selalu berdoa memohon kebaikan untuk mereka di setiap waktu, berdoa dengan hati yang bersih tanpa ada dendam dan kebencian, oleh karena itu saya melihat dalam segala urusanku adalah hasil dari doa beliau secara nyata dan tidak ada keraguan sedikitpun, berapa banyak pintu kebaikan terbuka untukku dengan tidak disangka-sangka dan berapa banyak tipu-daya orang-orang yang hasad dan dengki menjadi runtuh karena karunia Allah disebabkan doa ibuku yang dikabulkan-Nya."
(Dam'ah 'ala Qabri Ummi)
Sumber : Postingan Abu Ishaq di Milist As-Sunnah pada hari Rabu, 14 Januari 2009.
Baca Selengkapnya....
Tampilkan postingan dengan label tauladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tauladan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Januari 2009
Selasa, 13 Januari 2009
Wasiat Terakhir Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam
Dari al-‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu’anhu, dia berkata bahwa (pada suatu hari) Rasulullah shaallahu’alaihi wasallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang sangat berkesan sehingga hati kami terharu dan air mata kami bercucuran. Maka kami pun menyapanya: “Wahai Rasulullah, sepertinya ini pesan perpisahan. Untuk itu, berilah kami wasiat." Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian agar selalu mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian seorang budak hitam (Habsyi). Karena sesungguhnya, siapa yang masih hidup (sepeninggalku) niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham. Jauhilah pula oleh kalian perkara-perkara baru (bid‘ah) karena setiap bid‘ah itu sesat."*
* HR. Abu Dawud, Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 3851), at-Tirmidzi, Shahiih Sunanit Tirmidzi (no. 2157), Ibnu Majah, Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 40), dan lainnya. Lihat: Shahiihut Targhiib wat Tarhiib (no. 34) dan Kitaabus Sunnah (no. 54) oleh Ibnu Abi ‘Ashim, dengan tahqiq guru kami, Syaikh al-Albani rahimahullah. Dan disebutkan dalam satu riwayat an-Nasa-i dan al-Baihaqi yang tertera pada kitab al-Asmaa-u wash Shifaat: “Dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.” Dengan sanad yang shahih, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Ajwibatun Naafi’ah (hlm. 545) dan Ishlaahul Masaajid (hlm. 11).
Sungguh, sebuah wasiat yang begitu berharga, bukan saja bagi para Sahabatnya, namun juga bagi seluruh ummat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam sepeninggal beliau hingga akhir zaman nanti. Apabila kita cermati, wasiat ini mengandung beberapa hal penting, di antaranya:
Baca Selengkapnya....
* HR. Abu Dawud, Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 3851), at-Tirmidzi, Shahiih Sunanit Tirmidzi (no. 2157), Ibnu Majah, Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 40), dan lainnya. Lihat: Shahiihut Targhiib wat Tarhiib (no. 34) dan Kitaabus Sunnah (no. 54) oleh Ibnu Abi ‘Ashim, dengan tahqiq guru kami, Syaikh al-Albani rahimahullah. Dan disebutkan dalam satu riwayat an-Nasa-i dan al-Baihaqi yang tertera pada kitab al-Asmaa-u wash Shifaat: “Dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.” Dengan sanad yang shahih, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Ajwibatun Naafi’ah (hlm. 545) dan Ishlaahul Masaajid (hlm. 11).
Sungguh, sebuah wasiat yang begitu berharga, bukan saja bagi para Sahabatnya, namun juga bagi seluruh ummat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam sepeninggal beliau hingga akhir zaman nanti. Apabila kita cermati, wasiat ini mengandung beberapa hal penting, di antaranya:
- Wasiat takwa selalu tepat disampaikan pada setiap tempat dan kesempatan sebelum wasiat-wasiat lain karena ia merupakan kunci kebaikan dunia dan akhirat.
- Mendengar dan taat kepada pemimpin kaum Muslimin yang sah, siapa pun dia, hukumnya wajib selama pemimpin tersebut tidak menyuruh bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.
- Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengabarkan kepada ummatnya peristiwa yang akan terjadi nanti sepeninggal beliau, berupa perselisihan pendapat antar ummat Islam, dan apa yang Rasulullah beritakan itu benar-benar terjadi. Hal ini membuktikan bahwa Muhammad shalallahu’alaihi wasallam adalah benar-benar seorang Nabi, yang tidaklah beliau berbicara melainkan berdasarkan wahyu dari Yang Maha Mengetahui yang ghaib, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
- Wasiat Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam yang disampaikan kepada ummatnya jauh-jauh hari sebelum wafatnya, mengenai musibah yang akan terjadi setelah beliau tidak berada lagi di tengah-tengah mereka, menunjukkan kasih sayang beliau yang begitu besar. Beliau tidak rela melihat ummatnya berpecah-belah karena perselisihan pendapat tanpa ada solusi yang tepat, benar dan aman dalam mengatasinya.
- Berdasarkan hadits di atas, sikap yang benar pada saat ummat Islam berselisih pendapat dan berpecah-belah adalah dengan mengembalikan masalah yang diperselisihkan kepada sunnah Rasul dan Sahabatnya, serta menjauhkan diri dari hal-hal baru yang tidak ada landasannya dalam as-Sunnah.
- Berdasarkan wasiat Nabi tersebut, as-Sunnah memiliki keistimewaan hukum dibandingkan dengan al-Qur-an. Pada saat ummat berselisih, as-Sunnah-lah yang seharusnya menjadi penengah dikarenakan ia mengandung hukum yang lebih terperinci daripada al-Qur-an yang masih global. Di samping itu, as-Sunnah juga berfungsi menjelaskan dan menjabarkan hukum-hukum al-Qur-an yang masih umum dan mutlak.
- Setiap perkara baru yang menyelisihi as-Sunnah (bid’ah) adalah kesesatan semata dan berpotensi menyesatkan siapa saja yang menganutnya.
- As-Sunnah tetap relevan untuk setiap zaman.
Baca Selengkapnya....
Rabu, 07 Januari 2009
Kisah Keteguhan Imam Ahmad rahimahullah Dalam Menghadapi Fitnah
Imam al-Aajurri rahimahullah berkata, Dikisahkan kepadaku dari al-Muhtadi rahimahullah bahwasanya ia berkata, "Tidak ada yang dapat menghentikan aksi ayahku (yakni al-Watsiq) kecuali seorang Syaikh (yakni Imam Ahmad) yang dibawa dari al-Mashishah. Ia dijebloskan ke dalam penjara selama beberapa waktu. Kemudian pada suatu hari ayahku teringat kepadanya. Ayahku berkata, "Bawalah Syaikh itu kepadaku!" Lalu iapun dibawa dalam keadaan terbelenggu.
Ketika Syaikh itu tiba iapun mengucapkan salam kepada ayahku. Namun ayahku tidak membalas salamnya. Syaikh itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, engkau tidak memperlakukanku dengan adab yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormata, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)”. (QS. 4: 86). dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga memerintahkan kita membalas salam!"
Ayahku pun membalas salamnya, "Wa 'alaikas salam!" balasnya, kemudian berkata kepada Ibnu Abi Duwad, "Tanyakanlah kepadanya!" Syaikh itu berkata, "Wahai amirul mukminin, saya dalam keadaan terikat seperti ini, saya mengerjakan shalat dalam sel tahanan dengan bertayammum, saya tidak diberi air. Lepaskanlah dahulu ikatan saya ini dan berilah saya air agar saya dapat bersuci dan mengerjakan shalat, setelah itu tanyalah yang ingin ditanyakan kepadaku."
Lalu ayahku memerintahkan para pengawal agar mereka melepaskan ikatannya dan memberinya air. Syaikh itupun berwudhu lalu mengerjakan shalat. Kemudian ayahku berkata kepada Ibnu Abi Duwad, "Tanyakanlah kepadanya!", "Sayalah yang semestinya bertanya kepadanya, suruh ia menjawab pertanyaanku!" potong Syaikh tersebut. "Silahkan!" Sahut ayahku.
Maka Syaikh itupun mendatangi Ibnu Abi Duwad dan bertanya kepadanya, "Kabarkan kepadaku tentang perkara yang engkau propagandakan kepada manusia (yaitu perkara kemakhlukan al-Qur'an -red), apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?"
"Tidak!" jawab Ibnu Abi Duwad.
"Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu?" lanjut Syaikh tersebut.
"Tidak!" jawabnya.
"Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhu?" tanyanya lagi.
"Tidak!" jawabnya.
"Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu?" tanyanya lagi.
"Tidak!" jawabnya.
"Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu?" lanjut Syaikh itu.
"Tidak!" tegaaas Ibnu Abdi Duwad.
Syaikh itu berkata, “Suatu perkara yang tidak didakwahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak pula Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiallahu 'anhum lalu Anda mendakwahkannya kepada umat manusia? Tidak bisa tidak anda harus berkata, 'Mereka (Rasulullah dan para sahabat -ed) mengetahuinya atau mereka tidak mengetauinya' Jika anda katakan, 'Mereka mengetahuinya! namun mereka tidak menyuarakannya.' Maka cukuplah bagi kita semua apa yang cukup bagi mereka, yaitu tidak menyuarakannya! "Jika anda katakan, 'Mereka tidak mengetahuinya! tetapi sayalah yang mengetahuinya!' Sungguh celaka anda ini! Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Khulafaaur Rasyidin radhiyallahu 'anhum tidak mengetahuinya, sementara Anda dan rekan-rekan anda mengetahuinya!"
Al-Muhtadi berkata, "Saya lihat ayahku langsung berdiri dan masuk ke dalam haira, ia tertawa sambil menutup wajahnya dengan bajunya dan berkata, "Benar juga, tidak bisa tidak kita harus mengatakan, 'Mereka mengetahuinya' atau 'Mereka tidak mengetahuinya' Jika kita katakan, 'Mereka mengetahuinya! namun mereka tidak menyuarakannya.' Maka cukuplah bagi kita semua apa yang cukup bagi mereka, yaitu tidak menyuarakannya! "Jika anda katakan, 'Mereka tidak mengetahuinya! tetapi andalah yang mengetahuinya!' Sungguh celaka kita ini! Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Khulafaaur Rasyidin radhiyallahu 'anhum tidak mengetahuinya, sementara Anda dan rekan-rekan anda mengetahuinya!"
Kemudian ayahku berkata, "Hai Ahmad!", "Labbaika" jawabnya. "Bukan kamu yang saya maksud, tapi Ahmad bin Abi Duwad!" sahut ayahku. Maka Ibnu Abi Duwad pun segera mendatanginya. Ayahku berkata, "Berilah Syaikh ini nafkah dan keluarkanlah ia dari negeri kita!"
Dalam sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam As-Siyar disebutkan, "...Maka jatuhlah pamor Ibnu Abi Duwad dalam pandangan ayahku, dan beliau tidak pernah lagi menguji orang dengan keyakinan sesat tersebut (keyakinan Al-Qur'an sebagai makhluk)!"
Dalam riwayat lain disebutkan, "Al-Muhtadi berkata, 'Sayapun insyaf dari keyakinan tersebut dan saya kira semenjak saat itu ayah sayapun insyaf darinya."
----------
Telah diriwayatkan dengan sanad yang tersambung oleh al-Ajurri dalam kitab Asy-Syari'ah hal. 91, dari beliau pula Ibnu Baththah meriwayatkannya dalam Al-Ibanah/Ar-Radd 'Alal Jahmiyah (452).
Diriwayatkan pula dari jalur yang lain oleh Ibnu Baththah dalam kitab tersebut (453), al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (IV/151-152), (X/75-79), Ibnul Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad (hal 431-432), Abdul Ghani al-Maqdisi dalam kitab Al-Mihnah (hal 169-174) dan Ibnu Qudamah dalam kitab At-Tawwabin (hal 210-215).
Baca Selengkapnya....
Ketika Syaikh itu tiba iapun mengucapkan salam kepada ayahku. Namun ayahku tidak membalas salamnya. Syaikh itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, engkau tidak memperlakukanku dengan adab yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormata, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)”. (QS. 4: 86). dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga memerintahkan kita membalas salam!"
Ayahku pun membalas salamnya, "Wa 'alaikas salam!" balasnya, kemudian berkata kepada Ibnu Abi Duwad, "Tanyakanlah kepadanya!" Syaikh itu berkata, "Wahai amirul mukminin, saya dalam keadaan terikat seperti ini, saya mengerjakan shalat dalam sel tahanan dengan bertayammum, saya tidak diberi air. Lepaskanlah dahulu ikatan saya ini dan berilah saya air agar saya dapat bersuci dan mengerjakan shalat, setelah itu tanyalah yang ingin ditanyakan kepadaku."
Lalu ayahku memerintahkan para pengawal agar mereka melepaskan ikatannya dan memberinya air. Syaikh itupun berwudhu lalu mengerjakan shalat. Kemudian ayahku berkata kepada Ibnu Abi Duwad, "Tanyakanlah kepadanya!", "Sayalah yang semestinya bertanya kepadanya, suruh ia menjawab pertanyaanku!" potong Syaikh tersebut. "Silahkan!" Sahut ayahku.
Maka Syaikh itupun mendatangi Ibnu Abi Duwad dan bertanya kepadanya, "Kabarkan kepadaku tentang perkara yang engkau propagandakan kepada manusia (yaitu perkara kemakhlukan al-Qur'an -red), apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?"
"Tidak!" jawab Ibnu Abi Duwad.
"Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu?" lanjut Syaikh tersebut.
"Tidak!" jawabnya.
"Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhu?" tanyanya lagi.
"Tidak!" jawabnya.
"Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu?" tanyanya lagi.
"Tidak!" jawabnya.
"Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu?" lanjut Syaikh itu.
"Tidak!" tegaaas Ibnu Abdi Duwad.
Syaikh itu berkata, “Suatu perkara yang tidak didakwahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak pula Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiallahu 'anhum lalu Anda mendakwahkannya kepada umat manusia? Tidak bisa tidak anda harus berkata, 'Mereka (Rasulullah dan para sahabat -ed) mengetahuinya atau mereka tidak mengetauinya' Jika anda katakan, 'Mereka mengetahuinya! namun mereka tidak menyuarakannya.' Maka cukuplah bagi kita semua apa yang cukup bagi mereka, yaitu tidak menyuarakannya! "Jika anda katakan, 'Mereka tidak mengetahuinya! tetapi sayalah yang mengetahuinya!' Sungguh celaka anda ini! Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Khulafaaur Rasyidin radhiyallahu 'anhum tidak mengetahuinya, sementara Anda dan rekan-rekan anda mengetahuinya!"
Al-Muhtadi berkata, "Saya lihat ayahku langsung berdiri dan masuk ke dalam haira, ia tertawa sambil menutup wajahnya dengan bajunya dan berkata, "Benar juga, tidak bisa tidak kita harus mengatakan, 'Mereka mengetahuinya' atau 'Mereka tidak mengetahuinya' Jika kita katakan, 'Mereka mengetahuinya! namun mereka tidak menyuarakannya.' Maka cukuplah bagi kita semua apa yang cukup bagi mereka, yaitu tidak menyuarakannya! "Jika anda katakan, 'Mereka tidak mengetahuinya! tetapi andalah yang mengetahuinya!' Sungguh celaka kita ini! Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Khulafaaur Rasyidin radhiyallahu 'anhum tidak mengetahuinya, sementara Anda dan rekan-rekan anda mengetahuinya!"
Kemudian ayahku berkata, "Hai Ahmad!", "Labbaika" jawabnya. "Bukan kamu yang saya maksud, tapi Ahmad bin Abi Duwad!" sahut ayahku. Maka Ibnu Abi Duwad pun segera mendatanginya. Ayahku berkata, "Berilah Syaikh ini nafkah dan keluarkanlah ia dari negeri kita!"
Dalam sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam As-Siyar disebutkan, "...Maka jatuhlah pamor Ibnu Abi Duwad dalam pandangan ayahku, dan beliau tidak pernah lagi menguji orang dengan keyakinan sesat tersebut (keyakinan Al-Qur'an sebagai makhluk)!"
Dalam riwayat lain disebutkan, "Al-Muhtadi berkata, 'Sayapun insyaf dari keyakinan tersebut dan saya kira semenjak saat itu ayah sayapun insyaf darinya."
----------
Telah diriwayatkan dengan sanad yang tersambung oleh al-Ajurri dalam kitab Asy-Syari'ah hal. 91, dari beliau pula Ibnu Baththah meriwayatkannya dalam Al-Ibanah/Ar-Radd 'Alal Jahmiyah (452).
Diriwayatkan pula dari jalur yang lain oleh Ibnu Baththah dalam kitab tersebut (453), al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (IV/151-152), (X/75-79), Ibnul Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad (hal 431-432), Abdul Ghani al-Maqdisi dalam kitab Al-Mihnah (hal 169-174) dan Ibnu Qudamah dalam kitab At-Tawwabin (hal 210-215).
Baca Selengkapnya....
Label:
kisah,
tauladan,
ulama salaf
Langganan:
Postingan (Atom)